Pages

6.3.20

'sayang beberapa hari ini kamu ngga bilang met bobo.' 
'aku ngga mau hubungan kita penuh kecurigaan.' 

Dheg, seketika aku ingat bercandaanku yang bilang dia pasti copas. Yha Alloh pengen nangis, ngerasa bersalah. His tender heart, I don't know how hurt he is ngedengerin celotehanku yang ternyata dia cerna.

25.1.20

A Little Step - Rindu

Tiba-tiba aku ingat perjumpaan kami di pintu kedatangan Bandara Soekarno Hatta 25 Desember lalu. I run into him and give a hug. I never forget how our fingers intertwined during the journey heading to his home, telling me to calm down as it is my first time to meet my future parent in law. 

I feel warm and contented. I love you. 

A Little Step - Do I get their blessings ?

Jadi setelah berkunjung ke rumah mas Luthfan, bertemu orang tuanya, aku malah ngerasa minder. Do I get their blessing ?

'udah juga mau lamaran, kenapa mempertanyakan sesuatu yang ngga penting sih,' 

Itu penting tauuuuuuk, entah sih kenapa aku tu seringkali mempertanyakan sesuatu yang mungkin jawabannya akan membuatku sedih. Hadeuh. Entahlah. 

Kenapa aku memikirkan ini ? 

Awalnya baik-baik ajaa, hari pertama aku datang, mereka menyambutku dengan baik, mengajakku ke tempat makan langganan keluarga, etc etc. Hari kedua, disinilah kecanggungan itu terjadiiii. 

You know what, aku engga bantu ibu masak di dapur. Aku bantu cuci piring aja. Aku bantu nyapu dan nyuci piring juga tanpa sepengetahuan orang-orang gituuuu, yha tau lah ya kalo tipikal calon mantu yang diluar sana kan keliatan rajin bangeeeet, sedangkan aku enggaaaaa. Sumpah sih aku kepikiran banget, 'apakah aku jadi bahan omongan mereka juga ya? 'gimana ya menurut ibu, ibu kasih restu ngga ya?' hadeuh, sedih. 

Udah sering aku minta mas Luthfan nanya ke ibunya, kira-kira gimana tanggapan beliau tentang aku, tapi yha jawabannya gitu-gitu aja, jawaban yang berusaha meyakinkan aku. Ujung-ujungnya dia minta aku nanya teh Ayu dan aku maju mundur mau cerita kegelisahanku ke teh Ayu. Hh, sungguh.. 

5.1.20

Dedicated Post for 2019.

Tahun 2019 ini tahun yang lengkap. Lengkap sedihnya, lengkap bahagianya. Mari kita flashback.

Januari 2019 
Di bulan ini, aku ada pengumuman kelolosan cpns, dan aku lolos, alhamdulilah, namun dibalik itu semua, aku sedih, karena harus mempersiapkan perpisahanku dengan mas Luthfan. Ngga bisa bayangin LDR antar pulau, biasa LDR serang-kediri aja rasanya udah jauh bangetttttttt. Tgl 24 Januari ada jadwal pemberkasan, aku ke Jakarta sendirian karena kebetulan doi sedang pulang ke Serang, tapi akhirnya dia nyusulin ke tempatku pemberkasan, tapi tapi tapi, pemberkasan selesai 30 menit sebelum jadwal keretaku mengakibatkan pertemuan kami singkat saja. Aku ingat untuk mempersingkat waktu, kami naik goride, aku naik duluan, dia menyusul, sampai stasiun pse aku tunggu dia, ditengah kepanikan check in, waktu semakin menipis, dia datang, aku segera pamit kembali ke Surabaya. Sampe dalam kereta, aku nangis. Sedihhhhh.

20.10.19

Menjaga rahasia

Beberapa waktu ini baru nyadar bahwa ngga ada satupun orang yang bisa jaga rahasia. Ngga ada. Yang ada, rahasia itu ngga kembali lagi ke kita tapi udah jadi 'rahasia' banyak orang. Jadi sekali kamu cerita sebuah rahasia, jangan pernah berpikir 'cuma gue dan dia doang yg tau.' Wk.

Ada temen cerita, trus, 'jangan cerita ke orang lain ya?' kutanya balik 'aku mau cerita ke siapa?' Karena ya aku gapunya circle buat ngegibah dan kupikir ngapain gitu. Kecuali sedang ada yang ngomongin itu dan aku merasa perlu meluruskan beberapa hal yang salah, jadi 'hmm, sebenernya tuuu, ...' wkwk. 

Jadi sebelum cerita sebuah rahasia ke orang lain, pikir-pikir lagi deh. Kita ngga pernah bisa mengontrol apa yang udah kita bagi ke orang lain. Bahkan yang keliatannya meyakinkan pun. Serius. Tapi ini ngga semerta-merta mendukung kalian buat 'terserah gue dong kan rahasia itu udah dibagi ke aku.' Hadeh, belajar lagi tentang pentingnya menjaga kepercayaan dari orang lain.

#YangVinaRasa

"Sepi ga ada kamu tuh. Zona nyaman ku bukan sama temen-temen yang tadi. Kurang kamu wkwk.. si B juga cerita, harusnya yang jadi bridesmaids kamu, bukan dia."

Terharu aku, merasa berharga. 

15.10.19

Trending Sulli Meninggal

Sulli, aku gatau siapa dia, tapi dengar beritanya dia mengakhiri hidup rasanya prihatin, dan kesal. Aku belum pernah mendapat bullying dari tajamnya kata-kata orang, tapi aku cukup tau rasanya gapunya teman untuk meringankan beban.

Dua hari yang lalu ibuk menelponku, cerita bahwa adikku yang sedang menempuh langkah-langkah akhir menuju wisudanya, mengeluh, merasa sendiri, hanya karena melihat temannya saat sidang disambut oleh banyak teman-temannya, sedangkan dia, ngga ada siapa-siapa, menurut ceritanya, temannya tau dia akan sidang tapi ngga bisa menemani, padahal temannya itu belum bekerja, jadi ngga mungkin ada kesibukan, opininya. Kesendirian itu bertambah lagi dengan pikirannya yang me-recall bahwa keluarganya sudah ngga punya apa-apa, ditambah lagi dengan kesedihannya karena ditinggalkan pujaan hatinya beberapa bulan lalu.

Hmm, awalnya kupikir 'yaelah aku dulu sidang juga ngga dihadiri teman-teman, biasa aja,' tapi tunggu, bukankah setiap orang punya kemampuan berbeda dalam menghadapi situasinya ? aku langsung teringat rasa kesepian yang pernah aku rasa. Kelam. Seketika aku berdoa ke Allah, semoga diberikan terang di hati adikku di Semarang sana.

Hari ini semua orang merasa dirinya peduli dengan mental illness, merasa dia akan selalu ada buat orang yang butuh. B U L L S H I T.

Punya teman baik tiba-tiba ngga ada kabar dibiarin aja, ngga peduli ada apa sama dia. Ada teman yang udah lama ngga ada kabar, tiba-tiba minta kunjungan, ga peduli, kebanyakan alasan. Kenapa kita tu kebanyakan mikir kalo ada teman yang jelas-jelas minta, jelas-jelas butuh ? Gitu kalian bilang peduli sama mental illness ?

B U L L S H I T.