Kalau sedang LDR, sedang rindu pun bingung harus gimana. Mau disampaikan ngga cukup. Mau bertemu engga bisa. Terlebih kalo pengen ngobrol tapi gatau ngobrolin apa karena obrolannya udah abis sedangkan kangennya ngga abis-abis.😌
27.6.19
24.6.19
Pernikahan. (3)
"Aku sempat berpikir lebaran ini kita lamaran loh,"
Tahun ini penantian kami belum berujung. Sebenarnya kalau dipikirkan, belum siap juga aku untuk menikah tahun ini. Keinginanku untuk menikah rasanya di dominasi rasa baper aja melihat teman-temanku sudah lamaran dan menikah. Siapku menikah tahun depan, tapi lamaran tahun ini ngga ada yang melarang kan ?
Bismillah, semoga Allah meridhoi harapan kami.
Tahun ini penantian kami belum berujung. Sebenarnya kalau dipikirkan, belum siap juga aku untuk menikah tahun ini. Keinginanku untuk menikah rasanya di dominasi rasa baper aja melihat teman-temanku sudah lamaran dan menikah. Siapku menikah tahun depan, tapi lamaran tahun ini ngga ada yang melarang kan ?
Bismillah, semoga Allah meridhoi harapan kami.
19.4.19
Dear My Dearest Vina. #Moodswing
Hei my dearest self on this post. Mengapa kamu sebegitu putus asa sedangkan aku, kamu, sedang berada di Pusdiklat sekarang, 19 April 2019, menyusun Rancangan Aktualisasi untuk syarat kelulusan CPNS.
1.11.18
We always have a choice.
Belakangan ini gue ngerasain gimana dibully orang karena gue bertanggung jawab banget dengan kerjaan. No i'm not bragging myself, I swear. Gue kerja di perusahaan kecil, karyawan kurang dari 10, dan ngga lebih dari 3 orang yang benar-benar mendedikasikan kinerjanya buat perusahaan. Di antara 3 orang itu, kerjaan gue mengharuskan gue menekan karyawan untuk disiplin. Haduh buat disiplin aja harus dipaksa.
Dalam hampir setahun ini gue kerja disini, gue bener-bener merubah cara perusahaan mencatat data, dari data keuangan, sampai data yang mau ga mau mendisiplinkan karyawan yaitu absensi, planning dan laporan kerja. Nah kedisiplinan ini yang bikin gue ga disuka karyawan disini.
...
(Gue tiba-tiba lupa bagian mana yang mau gue jadikan highlight di postingan kali ini. Maap.)
Hanya, gue heran,
Kita bisa memilih untuk menjadi seseorang yang baik, tapi kenapa kita lebih memilih untuk menjadi seseorang yang buruk.
Why don't we choose to be the best version of us, be the best version of us since we only live once.
Dalam hampir setahun ini gue kerja disini, gue bener-bener merubah cara perusahaan mencatat data, dari data keuangan, sampai data yang mau ga mau mendisiplinkan karyawan yaitu absensi, planning dan laporan kerja. Nah kedisiplinan ini yang bikin gue ga disuka karyawan disini.
...
(Gue tiba-tiba lupa bagian mana yang mau gue jadikan highlight di postingan kali ini. Maap.)
Hanya, gue heran,
Kita bisa memilih untuk menjadi seseorang yang baik, tapi kenapa kita lebih memilih untuk menjadi seseorang yang buruk.
Why don't we choose to be the best version of us, be the best version of us since we only live once.
29.4.18
Pernikahan. (2)
[15/04 17:42] Aku : Kamu adakah niat nikahin aku nanti?
[15/04 17:44] Dia : Pikiranku dari dulu 😊
[15/04 17:44] Dia: Waktu orang tua kamu mau jodohin kamu, aku ngerasa ga rela sih sebenarnya. Tapi liat kenyataannya sekarang, mungkin aku bisa ikhlas.
[15/04 17:44] Dia : Pikiranku dari dulu 😊
[15/04 17:44] Dia: Waktu orang tua kamu mau jodohin kamu, aku ngerasa ga rela sih sebenarnya. Tapi liat kenyataannya sekarang, mungkin aku bisa ikhlas.
27.9.17
Pernikahan.
Hmm. Berat yha judulnya.
Pagi itu tumben, temanku, Berka, tiba-tiba menghubungiku via Whatsapp. Memberi kabar tentang teman kami yang diam-diam telah melangsungkan pernikahannya. Seketika itu aku buka instagram, iya, dengan gaun putih dan seorang pria mengkecup keningnya, foto itu muncul tepat di berandaku pagi itu. Duh, sweet, apalagi captionnya.
Keesokan paginya, aku buka instagram, dan lagi, aku menemukan seorang temanku memposting foto pertunangannya. "Alhamdulillaah, akhirnya 💕💕💕" ketikku di kolom komentar. Seperti biasa, tidak berlama-lama aku meninggalkan jejak di instagram, beberapa jam kemudian muncul notifikasi, jawaban dari komentarku.
"Alhamdulillah viiin, kamu kapan?"
Sungguh itu pertanyaan menusuk. Dan aku berjanji ngga akan aku tanyakan itu ketika aku berada di posisinya nanti seperti aku ngga akan pernah nanya skripsi kamu sampe mana? Hmm.
Kenapa orang terbiasa memberi respon begitu sih, duh Gusti. Sungguh itu bukan respon yang baik ketika kamu berada di posisi yang diidamkan orang lain. Bukankah lebih baik ucapan doa dibalas dengan ucapan doa juga. Hmm. Menurutku begitu.
Kembali lagi ke topik pembicaraan.
Jadi aku kapan?
Aku
Kapan
...
Doakan tahun depan ada yang meminang ya. 😳😳
(((aaaaamiiiiiiiiiiin)))
"Kalo denger kabar temanku menikah, aku pasti mikir, ini orang-orang doanya setelah lulus langsung menikah atau gimana sih?"
"yee alhamdulillah dong emang rejekinya."
Dari dulu, sudah terpatri dalam pikiranku, abis lulus, kerja dulu ya, abis lulus, kerja dulu ya, abis lulus, kerja dulu ya. Yaaa, ngga ada menikah dalam pikiranku waktu itu. Sekarang? Masih. Tapi, kalau ada yang meminang ya alhamdulillah. Ngga usah nunda. Tapi, mungkin akan ada sedikit sesal di hatiku jika aku menikah sebelum bekerja. Hehehe.
Untuk pertanyaan "kamu kapan, vin?"
"Demi Allah aku ingin segera, apalagi melihat stigma masyarakat tentang wanita muda. Tapi, aku belum bahagiakan orang tua, nikah tuh pake uang orang tua ngga sih, yang sederhana aja ya biar ngga nambah beban orang tua kita. Tapi, aku belum kerja, kamu gapapa penuhi kebutuhan kita sendiri aja? Tapi, aku, belum ada kamunya. Jadi gimana?"
Pagi itu tumben, temanku, Berka, tiba-tiba menghubungiku via Whatsapp. Memberi kabar tentang teman kami yang diam-diam telah melangsungkan pernikahannya. Seketika itu aku buka instagram, iya, dengan gaun putih dan seorang pria mengkecup keningnya, foto itu muncul tepat di berandaku pagi itu. Duh, sweet, apalagi captionnya.
Keesokan paginya, aku buka instagram, dan lagi, aku menemukan seorang temanku memposting foto pertunangannya. "Alhamdulillaah, akhirnya 💕💕💕" ketikku di kolom komentar. Seperti biasa, tidak berlama-lama aku meninggalkan jejak di instagram, beberapa jam kemudian muncul notifikasi, jawaban dari komentarku.
"Alhamdulillah viiin, kamu kapan?"
Sungguh itu pertanyaan menusuk. Dan aku berjanji ngga akan aku tanyakan itu ketika aku berada di posisinya nanti seperti aku ngga akan pernah nanya skripsi kamu sampe mana? Hmm.
Kenapa orang terbiasa memberi respon begitu sih, duh Gusti. Sungguh itu bukan respon yang baik ketika kamu berada di posisi yang diidamkan orang lain. Bukankah lebih baik ucapan doa dibalas dengan ucapan doa juga. Hmm. Menurutku begitu.
Kembali lagi ke topik pembicaraan.
Jadi aku kapan?
Aku
Kapan
...
Doakan tahun depan ada yang meminang ya. 😳😳
(((aaaaamiiiiiiiiiiin)))
"Kalo denger kabar temanku menikah, aku pasti mikir, ini orang-orang doanya setelah lulus langsung menikah atau gimana sih?"
"yee alhamdulillah dong emang rejekinya."
Dari dulu, sudah terpatri dalam pikiranku, abis lulus, kerja dulu ya, abis lulus, kerja dulu ya, abis lulus, kerja dulu ya. Yaaa, ngga ada menikah dalam pikiranku waktu itu. Sekarang? Masih. Tapi, kalau ada yang meminang ya alhamdulillah. Ngga usah nunda. Tapi, mungkin akan ada sedikit sesal di hatiku jika aku menikah sebelum bekerja. Hehehe.
Untuk pertanyaan "kamu kapan, vin?"
"Demi Allah aku ingin segera, apalagi melihat stigma masyarakat tentang wanita muda. Tapi, aku belum bahagiakan orang tua, nikah tuh pake uang orang tua ngga sih, yang sederhana aja ya biar ngga nambah beban orang tua kita. Tapi, aku belum kerja, kamu gapapa penuhi kebutuhan kita sendiri aja? Tapi, aku, belum ada kamunya. Jadi gimana?"
Subscribe to:
Posts (Atom)